PENA 98 Sumsel Menolak Kebangkitan Keluarga Cendana

  • Bagikan

Nusantara Satu-Persatuan Nasional Aktivis (PENA) 98, menentukan sikap dan pandangan politik. Pemimpin Indonesai harus bersih dari HAM dan dosa-dosa masa lalu, Kamis (14/3).

Juru bicara PENA Sumatera Selatan (Sumsel) Muhamad Iqbal,  menyikapi perkembangan situasi politik terkini dimana masyarakat dihadapkan pemilu presiden dan pemilu legeslatif yang akan menentukan arah bangsa 5 tahun kedepan. Bahwasanya pemimpin Indonesia harus bersih dari HAM  dan dosa dosa masa lalu . Pihaknya tidak ingin anak anak kami harus mengalami peristiwa berdarah ,intimidasi ,teror dan pelangaran hak asasi manusia lainya yang terjadi pada masa lalu.

“Kami juga menolak capres tuan tanah, yang mengkooptasi lahan negara dan menguasai untuk kepentingan pribadi tidak layak menjadi Capres. Kami yakin ketika seorang tuan tanah dibiarkan menjadi pemimpin di Indonesia , maka ketamakan dan kehausanya akan harta dan kekuasan akan semakin merajalela,” katanya.

Iqbal menuturkan, mereka menolak kebangkitan keluarga cendana, karena masa lalu menampilkan orang-orang yang erat dengan cendana, menantu ,hingga matan jongos cendana yang ingin mengembalikan kejayaan keluarga cendana denggan  mengusung jargon jargon orde baru.

“Untuk itu kami PENA 98 Sumsel  untuk tetap mendukung calon presiden dan wakil presiden 2019 yang bukan bagian dari masa lalu. Bukan pelanggar HAM dan tidak bagian dari keluarga cendana . Calon yang kami usung adalah pasangan no urut 01 Joko Widodo -Ma’ruf Amin,” ujarnya. (M. Akip)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *