PALI – Guratan bangga tak mampu. disembunyikan dari wajah Efran. Berdiri tegak di samping putranya yang berseragam loreng lengkap di Rindam Jaya, Condet, Jakarta Timur, 16 Agustus 2024 lalu, Efran menyaksikan buah dari air mata dan keringat yang tertumpah selama setahun terakhir. Putranya, Shevano Junierdo Mipeja, resmi dilantik menjadi prajurit TNI AD Gelombang I TA 2024 di Rindam Jaya.
Bagi Efran, seorang wartawan yang terbiasa bergelut dengan tajamnya berita, mendidik anak pertama bukan sekadar memberi kasih sayang, melainkan membentuk karakter baja. Sheva, panggilan akrab sang putra, kini bukan lagi pemuda biasa dari Pendopo, Talang Ubi, PALI. Ia adalah prajurit organik yang mengemban tugas mulia di ujung timur Indonesia: Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 818/Yuboi, Bumi Cendrawasih, Merauke, Papua Selatan.
Mental Baja di Bawah Tempaan Jasdam II/Sriwijaya
Perjalanan Sheva menuju seragam hijau loreng tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Menyadari mimpi besar sang anak, Efran mengambil peran sebagai “pelatih” paling keras di garis depan. Selama satu tahun, Sheva digembleng di program latihan fisik dan mental Jasdam II/Sriwijaya, Palembang.
Efran bukan tipe orang tua yang memanjakan. Setiap hari, ia memantau perkembangan Sheva langsung kepada pelatih. Kedisiplinan adalah harga mati.
“Kalau kau bertingkah seperti ini, lupakan mimpimu jadi abdi negara! Pendidikan TNI itu jauh lebih berat dari ini. Harus kuat fisik, tahan mental!”
Kalimat pedas itu pernah meluncur dari mulut Efran saat sebuah drama kejujuran terjadi. Suatu hari, Sheva mengaku pergi latihan, namun saat dikonfirmasi ke pelatih, ia tak muncul. Murka seorang ayah pecah. Di hadapan sang anak yang menangis sejadi-jadinya, Efran nyaris memulangkan Sheva ke Pendopo dan menyuruhnya berhenti bermimpi.
“Kau tahu tidak? Di pendidikan nanti sangat kejam! Banyak yang tidak tahan!. Ada yang melarikan diri, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak kuat. Kalau mentalmu tempe, pulang sekarang!” bentak Efran saat itu.
Janji di Atas Air Mata
Tangisan Sheva hari itu menjadi titik balik. Di bawah ancaman dipulangkan, ia memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya. Sejak saat itu, standar latihan ditingkatkan secara ekstrem. Efran mematok target tinggi: lari 7 keliling dalam hitungan menit yang presisi dan pull-up minimal 20 kali tanpa jeda.
Hasilnya? Sheva tidak hanya sekadar lulus. Ia berhasil terpilih di antara 600 pemuda terbaik dari gabungan Kodam I/Bukit Barisan, Kodam II/Sriwijaya, dan Kodam III/Siliwangi untuk menempuh pendidikan di Jakarta.
Pengabdian di Tanah Papua
Kini, pemuda yang dulu menangis karena bentakan ayahnya itu telah menjelma menjadi tamtama tangguh. Tugas berat menantinya di Merauke, menjaga perbatasan dan kedaulatan NKRI.
Bagi Efran, keberhasilan Sheva adalah pesan kuat bahwa didikan keras bukan berarti benci, melainkan bentuk cinta agar sang anak siap menghadapi kerasnya dunia militer. Dari tangan seorang wartawan yang tajam menulis berita, lahir seorang prajurit yang tajam menjaga bangsa.
“Dulu saya keras agar dia tidak hancur di pendidikan. Sekarang, saya lepas dia dengan bangga untuk menjaga Indonesia,” pungkas Efran.











